Perkembangan Islam pada saat ini telah sedemikian pesat. Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 milyar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Perkembangan yang pesat itu tidak lepas dari peran Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran Islam. Ia muncul sebagai sosok yang tepat dalam kemunculan dan perkembangan Islam.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan Muhammad menjadi sosok yang tepat sebagai tokoh sentral dalam kelahiran dan penyebaran agama Islam. Ia tidak muncul dalam sebuah ketaksengajaan, tetapi dalam kondisi yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan. Dengan inilah Islam kemudian berkembang menjadi sistem kepercayaan dan sebuah peradaban yang memiliki eksistensi sampai saat ini.
Kondisi Internal: Muhammad sebagai Orang Arab
Mengapa Muhammad tepat menjadi sosok yang membawa ajaran Islam, jawabnya adalah karena ia orang Arab. Tampaknya sederhana, tapi sebenarnya memiliki makna yang kompleks. Konteks Arab pada saat itu tidak dapat dilepaskan sebagai salah satu faktor yang mendorong Islam berkembang dengan pesat. Kondisi lingkungan yang sedemikian rupa telah memberi karakter terhadap Muhammad dan penyebaran agama Islam pada tahap awal. Ini karena ada beberapa potensi yang dimiliki oleh Arab sebagai tempat perkembangan awal agama Islam.
Oleh karena Muhammad orang Arab, ia menyebarkan pengaruhnya secara awal di kawasan tersebut. Dengan menyebarnya Islam di Arab ada beberapa keuntungan yang diperoleh. Keuntungan pertama ditinjau dari aspek lokasi. Arab berada di antara beberapa peradaban besar. Di sebelah utara terdapat kawasan yang disebut fertile cresent, yakni sebuah delta sebagai tempat berkembangnya peradaban Assyiria, Babilonia, dan Yaman. Ini menyebabkan Arab, terutama kawasan Meka sebagai tempat persinggahan para pedagang di area Yaman-Palestina-Syiria. Jalur darat dan jalur laut berfungsi secara aktif di kawasan Arab.
Keuntungan yang kedua adalah bahwa Arab memiliki medan yang dihuni oleh dua jenis masyarakat, yakni masyarakat yang hidup di kota dan masyarakat yang hidup sebagai kafilah. Masyarakat yang terdiri atas kafilah-kafilah ini turut membentuk watak orang Arab sebagai orang yang pemberani, berpikiran bebas, menjunjung tinggi harga diri, dan tidak suka terbelenggu dibawah pengaruh orang lain, meskipun di sisi lain mereka memiliki fanatisme kesukuan yang sangat tinggi dan sangat berlaku taqlid atau dogmatis. Kemerdekaan berpikir ini barangkali akan sangat kondusif bagi diterimanya pemikiran Islam yang masih asing bagi mereka dan menjadi faktor penting dalam upaya perluasan pengaruh Islam.
Menurut sejarawan Arnold J. Toynbee, kemunculan pada masa itu di Arab sangatlah tepat. Ini disebabkan pada masa Muhammad akumulasi kekuatan spiritual di Arab siap untuk meledak. Dan kekuatan tersebut menemukan salurannya ketika Muhammad muncul dengan pandangan dan konsep tentang Islam.
Kondisi Arab yang turut mendukung perkembangan Islam adalah bahwa di Arab walaupun berada di antara berbagai peradaban dunia, tetapi tidak pernah menjadi bagian secara tegas dalam peradaban-peradaban tersebut. Hanya ada beberapa kerajaan kecil yang bekembang di kawasan Arab Utara sehingga memungkinkan perkembangan peradaban baru. Karena faktor alam pulalah yang menyebabkan Arab lepas dari perebutan kekuasaan berbagai kekuatan besar di sekelilingnya.
Arab tidak menjadi kawasan yang menjadi perebutan juga disebabkan Arab memiliki bangunan suci, Ka’bah, di mana di tempat itu diberlakukan gencatan senjata selama beberapa bulan dalam satu tahun. Ini menyebabkan kawasan tersebut relatif lebih damai daripada kawasan lainnya. Dikaitkan dengan Ka’bah, Muhammad merupakan keturunan dari kalangan yang bertugas mengurus Ka’bah dari suku Quraysh.
Kondisi alam di Arab tidak memungkinkan sebagian besar masyarakatnya untuk berprofesi sebagai petani. Tidak banyaknya air yang berada di kawasan ini menyebabkan dipilihnya profesi pedagang oleh masyarakat. Muhammad pun pada awalnya berprofesi sebagai pedagang dan telah singgah ke beberapa kawasan di utara Arab, seperti Syiria. Karena itulah, masyarakatnya merupakan masyarakat yang bermobilitas tinggi. Mobilitas tinggi masyarakat dibuktikan dengan telah aktifnya pelayaran yang dilakukan oleh bangsa Arab, bahkan sampai ke kawasan Nusantara pada tahun 700 SM.
Kondisi Eksternal: Islam di Tengah Peradaban Dunia
Faktor lain selain faktor ke-Arab-an yang turut berpengaruh terhadap perkembangan Islam secara pesat adalah faktor lemahnya peradaban besar yang ada ketika Islam muncul. Kehidupan Muhammad sekitar 570-632 M berada dalam rentang waktu dua perang Roma-Persia terakhir. Perang antara barat dan timur. Perang ini menghabiskan kekuatan di antara kedua kerajaan.
Peradaban barat ketika Muhammad hidup tengah memasuki masa ketika banyak terjadi perpecahan. Selain itu, mulai berpengaruh pula gereja-gereja di kawasan tersebut. Oleh karena itu, fokus utama kerajaan-kerajaan adalah mulai melakukan penyatuan terhadap kawasan-kawasan di Eropa. Sementara itu, kerajaan-kerajaan besar di kawasan utara Arab telah lama terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang selalu bertikai dengan kerajaan dari Eropa.
Kemudian, satu abad sebelum lahirnya Muhammad, kerajaan Gupta di Asia Selatan mengalami keruntuhan. Berbagai penyerangan dari suku di kawasan asia tengah berhasil menguasai kawasan Persia dan India Barat Daya. Sementara itu tiga kerajaan di India utara saling serang. Pada periode yang sama dengan masa Muhammad, kondisi yang terjadi di India Utara adalah kondisi untuk meredakan berbagai konflik yang terjadi selama lebih dari seabad.
Sementara itu peradaban di Asia Timur sejak awal masehi terpolarisasi dalam berbagai kerajaan kecil dan muncul dinasti dengan masa pemerintahan yang sangat pendek yang dikenal dengan zaman enam dinasti (256-589). Bersamaan dengan munculnya Muhammad ,di Tiongkok muncul dinasti Tang yang mencoba membangun kembali Tiongkok di bawah kepemimpinannya.
Selain karena alasan peradaban lain tengah berada pada konsolidasi internal, lasan mengapa Arab lebih potensial dalam pengembangan Islam adalah karena ia lebih luwes daripada peradaban-peradaban lain. Peradaban besar Asia Timur terjebak pada pandangan egosentris yang menyebabkan mereka menganggap bahwa bangsanya lebih unggul dari berbagai aspek, dan melihat relasi dengan bangsa lain sebagai relasi kepentingan bagi dirinya. Ini juga berlaku untuk bangsa-bangsa asia selatan yang bahkan memandang secara tegas sistem stratifikasi masyarakat dalam lapisan-lapisan penggolongan yang memiliki peran yang kontras satu sama lain. Akibatnya hanya kalangan tertentu yang memiliki otoritas dalam menyebarkan agama. Sementara itu, peradaban di Eropa justru mulai terjebak dalam abad gelap dan masih diwarnai dengan perebutan hegemoni antarpenguasa.
Momentum yang Tepat
Peradaban-peradaban besar di dunia pada kuartal terakhir abad VI sampai kuartal awal abad VII berada pada kondisi yang sama. Mereka sibuk untuk melakukan konsolidasi internal untuk membangun pengaruh dan hegemoninya. Muhammad menjadi sosok yang tepat sebagai pembawa ajaran agama Islam karena ia berada di lingkungan dan situasi yang tepat. Ia lahir di pada lokasi yang memungkinkan Islam untuk berkembang dan di tengah momentum ketika peradaban-peradaban dunia sibuk menata kembali keadaan dalam negerinya. Pada saat kekuatan di dunia tengah berada pada masa konsolidasi internal inilah muncul Muhammad yang menawarkan perubahan. Momentum ini menjadi satu jawaban mengapa Muhammad muncul menjadi pemimpin besar dan pembawa ajaran Islam.
Wallahu a’lam