Dalam Malam

Desember 22, 2008 oleh tsabit

Dalam malam ada gelap yang hadirkan senyap

Ada sunyi yang matikan bunyi

Ada pula kelam yang lahirkan kelam

Dalam malam juga ada lain cerita

Ada jaka dara yang dimabuk asmara

Ada sisa-sisa rindu yang ditinggalkan senja

Ada serpih-serpih cinta

Yang sengaja ditebar purnama

Ada pula aku yang menunggumu,

sendiri saja

Sokanandi, 13 Desember 2008

Asmara Angin dan Daun Bambu

Desember 22, 2008 oleh tsabit

Risik yang kaudengar sebenarnya adalah desah dari daun bambu

yang dicumbui angin di sore itu

Belaian angin sesekali menjatuhkan daun-daun bambu

pada permukaan tanah yang selalu merindu

Kemesraan itu tak terkurangi

Walau matahari telah menyurut pergi

Aku iri pada kemesraannya

Mereka menjalin asmara begitu intimnya

Padahal mereka berbeda

Sokanandi, 13 Desember 2008

Di Mimpi

Desember 22, 2008 oleh tsabit

Yayi,mungkin aku belum bisa menemuimu hari ini

Aku juga tidak bisa berjanji,

tentang apa yang akan kuberi

Tidak juga tentang waktu kapan kau akan kujumpai

Aku hanya bisa berdoa

Semoga nanti kita bisa bersua di mimpi

Di sana malam ini kau akan kutemani

Sampai pagi

Sokanandi, 12 Desember 2008

Jalan Keringat

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Aku keringat,
yang menderas menjadi kali
Mengalir dari dahi menuju pipi
Sampai bermuara menjadi daki

Sebabnya matahari menyengat lagi
Tak tahan ku terjebak di bawah ari
Lalu kudobrak saja pori-pori
Biar bisa mengalir pergi

Pamularsih, 5 Desember 2008

Kisah Si Pagi

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Terlihat pagi bersedih lagi
“mengapa?”
“matahari membuatmu sakit hati,
atau karena mendung yang tak kunjung pergi?”

Ah,matahari masih setia menemani
Pun awan tipis yang justru menggantung di lazuardi
Aku hanya sedih tak lagi dinikmati

Pamularsih, 5 Desember 2008

Memesan Nisan

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Tolong buatkan nisan untukku
Jangan kayu tetapi batu
Biar tidak dilapuk waktu
Aku takut nanti orang tak lagi mengingatku
“apa yang harus kupahatkan disitu?”
“nama, waktu lahir dan matimu?
Tanya tukang nisan itu

Tatah saja di atasnya “AKU”
Pahatkan “PASTI” di waktu matiku
Biar nanti orang jadi mengerti
Kalau nanti kuburku diziarahi
Mereka lihat dirinya sendiri
Yang akan jadi sepi
Pun dikunjungi sesekali

Pamularsih, 5 Desember 2008

Aku Mencintai-Mu

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Aku belajar mencintaiMu melalui bunga-bunga
Lewat sarinya,
yang ia berikan pada serangga
Aku belajar mencintaiMu melalui surya
Lewat sinarnya,
yang merekahkan bunga-bunga
Aku belajar mencintaiMu melalui cahaya
Lewat pancarnya,
yang menghidupkan surya dan semesta

Bunga

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Lewat tangkainya,
ia izinkan manusia memetiknya
Lewat nektarnya,
ia biarkan serangga menghabiskannya
Lewat kelopaknya,
ia gugurkan pada tanah yang mendambanya
Ia rela tubuhnya diciumi
Ia tidak mau keindahannya dinikmati sendiri

Cintanya Bunga

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Bunga rela menggugurkan kelopak-kelopaknya
Dibiarkannya yang berharga itu sirna,
satu-persatu
Dilepaskan kecantikannya,
dengan menjadi layu
Ia melakukannya karena cinta
Cintanya bunga
Pada pohon yang melahirkannya

Bunga rela dirinya menjadi mangsa
Diizinkannya serangga menghisap sukmanya
Menjadikan dirinya tiada
Dilakukannya itu demi cinta
Cintanya bunga
Pada tunas yang menggantikannya

Kutitipkan Cintaku

Desember 11, 2008 oleh tsabit

Kubisikkan pada angin rasa cintaku
Agar kau bisa menghirupnya
Merasakan hadirnya di paru-paru
Kemudian cintaku mengalir dalam darahmu

Kusampaikan pesan cintaku melalui gelombang
Agar menjelma ia jadi suara
Disampaikannya padamu melalui telinga
Dan akhirnya kau bisa mendengarnya

Kutitipkan pesan cintaku kepada cahaya
Biar ia menjelma menjadi warna
Masuk melalui celah-celah matamu
Lalu mengendaplah cintaku dalam jiwamu